Adat istiadat masyarakat Bekasi

Monitor Bekasi
Sumber Gambar : adatnusantara.xyz
Bekasi, (d'MonitorBekasi) - Sikap toleransi yang ada pada masyarakat Betawi pada umumnya, tercermin pula pada masyarakat Betawi  Bekasi, antara lain:
  • Sikap yang Ramah Tamah
  • Gaya Hidup Sederhana (Seadanya)
  • Solidaritas dan Gotong-royong
  • Menerapakan Asas Musyawarah untuk Mufakat dalam Pengambilan Keputusan
  • Takwa kepada Tuhan YME, termasuk ajaran agama Islam (Suparlan, 1985).

Tradisi Pantangan dan Kuwalat
Tradisi yang sudah dilaksanakan turun temurun, adanya pantangan yang digunakan sebagai saran atau himbauan, antara lain :
  • Dilarang membuang sampah ke sungai, karena jika ada buaya yang memakannya, hal itu akan menjadikan si pelaku kuwalat, yang secara tidak langsung sebuah Kearifan Lokal yang ditumbuhkan untuk merawat sungai itu sendiri dari pencemaran.
  • Demi menghormati Semesta Alam, dengan sarana Kearifan Lokal, sebuah makna sejarah yang mendalam, agar mencegah sepasang buaya putih penunggu sungai tidak marah, masyarakat  Betawi  "Nyuguh" dengan membawa Sesajen Kembang 7 (tujuh) Rupa, Telor Ayam Mentah, Ayam Bekakak, dan Basi Kuning.
  • Tradisi menghormati kepada sepasang Buaya Putih, masih tercermin dalam adat perkawinan Betawi yang mengharuskan dalam pinangan pihak mempelai laki-laki membawa Sepasang Roti Buaya.
  • Sampah harus dibakar (ditabun), dimana membakar sampah merupakan  kebiasaan orang Betawi dan menebang pohon juga tidak boleh sembarangan, karena dalam pohon kayu yang besar terdapat penunggu yang akan marah bila pohon kayu itu ditebang secara sembarangan.

Suguhan atau Sesajen di atas merupakan Sandi bagi Alam Semesta, bagi orang yang ingin berinteraksi dengan Alam Semesta ciptaan Tuhan YME. Sesajen sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan menyembah, ini adalah prilaku tanda, bahwa kita benar-benar menghormati, bukan hanya di mulut saja.

Perumpamaannya, kita bilang ke semua tetangga bahwa kita sangat hormat dan sayang kepada Orangtua kita, tetapi tetangga kita melihat saat Orangtua kita datang ke rumah, ternyata kita hanya mempersilahkan duduk dan hanya mengajak ngobrol saja, tanpa tergopoh-gopoh mengambilkan Minuman dan Makanan (prilaku yang menunjukan kesamaan Ucapan dan Kenyataan)

Kuwalat artinya kena bencana karena kelakuan kita sendiri, yang semena-mena terhadap Alam Semesta yang telah memberi kita tumpangan hidup, dan memberikan segala fasilitas kehidupan berupa Tanah Air dan Udara.

Benar Alam Semesta yang membuat adalah Tuhan YME, tetapi bukan berarti kita bisa semena-mena.

Perumpamaannya, kita membeli motor dengan BPKB dan STNK atas nama kita. Tetapi apakah kita dapat semena-mena memakainya, tanpa membelikan bensin oli dlsb. Kepada Motor saja kita tahu diri, masakan kepada Alam Semesta yang memberi fasilitas Tanah Air dan Udara kita malah semena-mena. 

Membakar kemenyan  adalah kebiasaan dari Leluhur kita, yang diikuti oleh Orang Arab hingga kini (Silahkan dicek di Departemen Perdagangan tujuan ekspor terbesar Kemenyan Indonesia adalah ke Arab Saudi). Dengan membakar kemenyan maka asap wanginya menyebar ke seluruh sudut rumah, dimana wewangian adalah mengundang kebaikan, termasuk aura baik dan juga mahluk non manusia yang baik. Sebaliknya, jika rumah kita kotor dan bau tak sedap, maka kita mengundang kejahatan.

Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan pada masyarakat Bekasi menganut sistem kekerabatan yang bersifat  "Parental", yang artinya sebuah hubungan kekerabatan yang menarik garis keturunan sendiri, dimana masyarakat Bekasi apabila sudah berkeluarga cenderung menarik garis keturunannya sendiri, baik dari pihak Ayah maupun dari pihak Ibu, untuk menetap atau bertempat tinggal terpisah dari Orangtua mereka.

Catatan :
Sesajen dari kata Saji, begitu pula ketika kita kedatangan tamu, kita pun menyajikan Minuman dan kalau bisa Makanan. Tetapi bagi Mahluk non Manusia, kata tersebut diperhalus menjadi Sajen.

Sumber : Dari Berbagai Sumber