Eksistensi Partai Komunis Palestina

Bekasi, (d'MonitorBekasi) - Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) merupakan organisasi perlawanan rakyat Palestina yang berideologi Komunis.

Kadang kita melihat perjuangan Palestina dari romantisme Agama semata, sementara Perjuangan Rakyat Palestina melawan Israel, terdiri dari banyak gerakan yang terlibat. Mulai dari faksi Islam, Kristen, bahkan Komunis.

Wajah Wanita Komunis Palestina
Pada 1967,  PFLP didirikan oleh Habash menjadi salah satu kelompok terbesar yang bergabung dalam Palestine Liberation Organization (PLO). 

Pada 1969, FPLP mendeklarasikan diri sebagai organisasi yang berhaluan Marxis-Leninis, tetapi tetap mengakui Pan Arabisme. 

Sementara Partai Komunis Palestina (PKP) sudah berdiri pada 1919, dan diakui oleh Comintern (Sebuah Organisasi di Moskow) pada 1924. Awalnya Comintern enggan mengakui karena tidak yakin PKP dapat membebaskan diri dari pengaruh lingkungan keberadaannya. 

PFLP yang didirikan Habash adalah salah satu faksi atau organ perjuangan dari PKP, berhaluan komunis Marxis-Leninis. 

Setelah Uni Sovyet bubar, PKP mengubah namanya menjadi Partai Rakyat Palestina (PRP), dengan meniadakan “komunis” sebagai nama partai, namun demikian, Marxisme masih diakui sebagai ideologi partai. 

Pada 2006, PFLP akhirnya ikut pemilihan legislatif Palestina. Tiga orang dari anggota partai ini berhasil menang, dan duduk di parlemen Palestina. Salah satunya adalah Ahmad Sa’adat, pemimpin ketiga PFLP setelah Habash, dan Abu Ali Mustafa, yang mati diledakan misil di kantornya.

Di bawah kepimpinan Ahmad Sa’adat, PFLP masih tampak garang. Sementara Sa’adat sendiri kini masih ditahan oleh pemerintah Israel karena tuduhan sebagai teroris.

Selain PFLP dan PKP, masih ada dua lagi partai berbasis ideologi kiri di Palestina, yakni : Barisan Demokratis Pembebasan Palestina atau Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP), yang merupakan pecahan PFLP.  (EW)

Foto : Istimewa

Sumber : IndonesiaMandiri.id